1.2.07

Komposter BioPhoskko, Buah Naga dan Kampung Naga




div align="justify">Di suatu hari, Jumat 26 Januari 07, lagi untuk kesekian kalinya PT CVSK di Bandung kedatangan beberapa orang usahawan dan petani Malaysia. Mereka sangat berminat, walau tanpa appointment lama sebelumnya, hari jumat itu juga, ingin melihat langsung proses pembuatan kompos Green Phoskko di Ciparay – suatu tempat pengusahaan kompos menggunakan Bio Reaktor Rotary Klin BerSeka berkapasitas 1 ton/ unit / 5 hari. Ternyata, mereka yang berpenampilan agak “ndesa” ini adalah para pengusaha dan pekebun tanaman buah naga di Pahang- Trengganu, Johor dan lokasi kebun lainnya- di Thailand Selatan ( Patani). Mengapa jauh-jauh mau melihat cara buat kompos ? Dan, apa hubungannya dengan buah naga........ ya ?

Ternyata pembaca yang budiman, ketajaman pebisnis dan petani Malaysia dalam melihat keuntungan luar biasa. Tanaman buah naga ( dragon fruits) adalah “pemakan” kompos yang paling rakus. Menurut Mr Tan Chee Meng- dari Modern Agriculture Enterprises- bertindak sebagai ketua delegasi, buah naga memerlukannya sampai 12 ton baja organik ( istilah kompos di Malaysia, red) per tahun per ha. Memang dapat dimengerti akal sehat sih, tanaman jenis kaktus berasal dari Mexico ini, kalau anda ingat saat lihat di “film Bonanza”, tumbuh diatas gurun pasir tandus namun dibawahnya konon berderai ( mudah ditembus akar sampai jauh). Nah, guna hidupnya sang kaktus sambil mampu menyimpan hara atau nutisi menjadi daging buah, membutuhkan asupan hara di area perakaran - yang luas agar bisa bertahan panjang serta memerlukan jenis kompos agar mengikat hara di tanah berpasir dan memperbaiki struktur tanah. Konon- sesuai genetisnya - yakni bertahan 70 tahun……………wow …bisa melebihi usia manusia. Pantes dulu ada cerita novel “ Winetto Gugur”, Old Shatterhand, sang pelakon, menggambarkan ada sang kepala suku Indian Apache “bisnis” buah naga juga ya? Ah ada-ada saja. Jadi jika bertanam hari ini, bisa-bisa cucu kita akan turut menikmati hasilnya. Inilah lahan investasi jangka panjang buat cucu keturunan namun, ternyata, tahun ke -2, jangka pendek pun sudah menghasilkan buat anak dan kita juga dong. Nah, karena penasaran, di suatu kesempatan kami menjamunya makan malam di Panyawangan - restoran berputar ( Rotary Restaurant) di Lantai 9 Hotel Panghegar Bandung, dimana agen komposter Rotary Klin BioPhoskko PT Wahana Daya Mandiri berada di Lt 4 - berceritalah ketua dan semua anggota delegasi tentang buah yang satu ini ( kadang diselingi dengan cerita buah yang dua), naga.

Buah naga ( dragon Fruits) disebut juga : Kaktus Manis, atau Kaktus Madu terbilang buah yang baru dikenal di Indonesia. Buah naga termasuk dalam keluarga tanaman kaktus dengan karakteristik memiliki duri pada setiap ruas batangnya. Kendati warna, rasa dan besaran buah ini hampir sama, setiap negara mempunyai sebutan yang berbeda terhadap buah ini, misal : Feuy Long Kwa (Cina), Thanh Long atau Clever Dragon (Vietnam), Kaew Mangkorn (Thailand), Shien Mie Kuo (Taiwan), Pitahaya (Mexico), Melano (Hawai), Rhino Fruit (Australia). Sedangkan secara internasional buah disebut Dragon Fruit., Buah Naga, Kaktus Manis, Kaktus Madu ( Indonesia )

Tahun 2001 buah ini hanya dikembangkan di Israel, kemudian Australia, Thailand dan Vietnam, tetapi sekarang sudah mulai merambah pasaran Indonesia. Saat ini Vietnam dan Thailand merupakan pemasok buah naga terbesar di dunia. Namun permintaan yang bisa dipenuhi baru 50 % saja. Sementara di pasar lokal, kendati masih sedikit, buah naga lokal juga sanggup bersaing dengan buah naga impor. Buah ini sekarang mulai tersedia di toko buah dan pasar swalayan dan sejumlah perkebunan melirik komoditas ini lantaran budidayanya mudah dan prospek ke depan cerah dibanding buah lainnya. Di Indonesia, buah naga ini masuk ke tanah air mencapai 200-400 ton/tahun asal Thailand dan Vietnam.

Jenis buah naga ada empat macam, pertama buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus).

Panjang lebar cerita berakhir ketika ditanyakan sang Direktur PT CVSK, Sonson Garsoni, apa sih untungnya Encik jauh datang ke Indonesia ? apa karena melancong dengan murah naik airasia langsung dari KL LCCT KualaLumpur ke Bandong, Cik ?

Encik Shaiddan bin Ariffin, dari Syarikat Harvesture Sdn BHD - yang buka ladang buah naga hingga 25 puluhan ekar ( atau setara 5 ha, red) di Kuantan dan Pahang di Trengganu Malaysia ini buka kartu kalau punya alat pembuat baja ( pupuk, red) sendiri akan hemat biaya kompos. Biaya usahatani keseluruhan pun akan jimat ( hemat, red) karena, kos pembelian baja kompos jadi jimat bisnes akan makin competitive. Wah komposter ge geuning jadi jimat ( kekuatan supra natural, sunda, red) tuh....... Harga kompos di Malaysia RM 3/ kg, menantang kami menghitung berapa penjimatannya.

Sang Direktur PT CVSK, yang memang senang kalkulasi, coba “orat oret” di atas kertas bekas agar jimat juga- dimana halaman sebaliknya sudah digunakan, seusai pertemuan menarik tersebut. Dengan dosis kompos 12 ton/ ha/ tahun akan memerlukan kompos 60.000 kg per tahun, nah... dengan harga beli saat ini RM 3/ kg, memerlukan biaya usaha tani bagi kompos saja RM 180.000/ 5 ha/tahun dong.........! Tahukan anda nilai tukar Ringgit Malaysia (RM) terhadap Indonesia Rupiah (IDR) adalah, Rp 2.500/ 1 RM ? Artinya, biaya kompos bagi tanaman naga di malaysia per 5 ha Rp 450.000.000,- Kalau dengan kompos sebesar itu masih untung karena memang harga buah naga bisa Rp 20.000,-/kg atau di Malaysia RM 7 / kg, bagaimana untungnya jika, kita bisa hemat biaya usahatani, di Indonesia ??

Lalu dimana penjimatannya ( eh…… maksud saya penghematannya) jika punya komposter Rotary Klin Biophosko - yang memang punya kapasitas 1 Ton/ 5 hari proses dengan hasil 500 kg ( rendemen kompos 50 % dari berat bahan sampah organic. Mari berhitung dong......!

Dengan 500 kg dihasilkan kompos per 5 hari/ sekali proses dari bahan sampah 1 ton akan dihasilkan 500 kg x 360/5 hr = 36.000 kg kompos; dan, karena keperluan proses dekomposisi kompos adalah 5 hari, agar terjadi pengolahan sampah secara kontinyu setiap hari, diperlukan 5 unit alat komposter. Dengan Instalasi Pengolahan Kompos (IPK) skala 5 Unit berarti akan dihasilkan 180.000 kg/ tahun atau lebih cukup bagi pemberian dosis 12 ton kompos per ha bagi 5 ha kebun buah naga. Bisa saja kita hanya buat kompos 2 hari sekali atau kapasitas 1 ton hanya diisi sebagian saja, atau sebagian kompos dijual ke petani lain dengan pendapatan 120 ton x Rp 1000/ kg adalah = Rp 120 juta/ tahun. Toch kelebihan 120 ton/ tahun bukan ?

Dengan asumsi harga activator green phoskko dan penggembur Rp 115.000/ ton sampah hanya akan diperlukan biaya per tahun bagi IPK skala 5 Unit per 360 hari adalah Rp. 41.400.000,- Coba bandingkan dengan biaya Mr tan Chee Meng di Malaysia diatas yang menghabiskan Rp 450.000.000,- ? Bukankah dapat dihemat Rp 408.600.000,- ??? Memang, sih, ada harus ada investasi IPK, yang kalau beli ke membutuhkan modal Rp 75.000.000,- saja itupun dengan masa ekonomis sekurangnya 3 tahun…………..Nah jika kelebihan kompos 120 ton/ tahun tadi dijual malahan ada surplus ( tambahan pendapatan) lagi dari jualan kompos Rp 120 juta tadi.

Wah, mengertilah kita, pantes aja jauh-jauh datang ke Bandung, hanya buat beli komposter BioPhosko. Dan sekalian studi banding melihat anak-anak kaktus di supermarket tanaman di Lembang bahkan, juga ada rencana investasi buah naga di Subang? Ya makin jimatlah perjalanan satu delegasi petani tersebut.

Sang Direktur PT CVSK pun tak ayal ingin menanam buah naga. Apalagi dia merasa sebagai lulusan sekolah pertanian, masa iya ngak bisa menanam buah ? Maka, diniatkanlah pulang kampongnya di Garut, kan niatnya isi kegiatan di masa tua dan sekalian buat anak cucu. “Harus yang berdekatan dengan Garut dan Tasik lah- tempat keluarga jika mau investasi kebun buah naga mah”, ujarnya. Selidik punya selidik, mencari tanah cocok seperti asalnya tempat tumbuh di Mexico idealnya tanah berporus dan berpasir, eh ..............ternyata berada di suatu perbatasan antara Tasik dan Garut, yaitu Kampung Naga…………..weleh…weleh…weleh…………Mari Anak-anak Jangan manja ! Segera Bawa Komposter BioPhosko®, buat Kompos dan tanam buah naga di Kampung Naga++++++++++++++++)

1 komentar: